RSS Feed

Karakter Mahasiswa bisa di bangun dan diterapkan melalui 7 Kebiasaan yang efektif

Posted by Wulandari SF



Karakter kita adalah gabungan dari kebiasaan (habits) kita.  Merubah kebiasaan memang sulit, tapi bisa dikerjakan dengan komitmen yang sungguh kuat.  Suatu kebiasaan (baik) bisa didefinisikan sebagai persilangan antara pengetahuan (knowledge), keahlian (skills) dan keinginan (desire).  Perubahan merupakan siklus proses dari “menjadi” dan “melihat”. Tujuan kita adalah bergerak secara progresif pada rangkaian dari ketergantungan menuju kemandirian kemudian saling-ketergantungan. Meskipun kemandirian adalah paradigma masyarakat kita saat ini, kita bisa menyempurnakan lebih banyak dengan kerjasama dan spesialisasi. Bagaimanapun, kita mesti mencapai keadaan kemandirian sebelum kita bisa memilih saling-ketergantungan.

Dimana didalam diri manusia terdapat tujuh kemampuan dasar yang berasosiasi dengan model kebiasaan menurut kontinum tertentu. Ketujuh kemampuan dasar itu digolongkan menjadi dua, yaitu kemampuan dasar primer yang meliputi :
1. Kesadaran diri (self awareness)
2. Imajinasi (imagination and conscience)
3. Kemauan (will power)
Dan kemampuan dasar sekunder yang meliputi :
1. Mentalitas berlimpah (abundance mentality)
2. Keberanian (courage with consideration)
3. Kreativitas (creativity)
4. Pembaruan (self renewal).

Karakter Mahasiswa bisa di bangun dan diterapkan melalui 7 Kebiasaan yang efektif

1. Kesadaran Diri – Proaktif
Dalam masyarakat kita, kita memiliki 3 penjelasan deterministik dari keterbatasan manusia: deterministik genetik, deterministik psikis dan deterministik lingkungan. Pada pemeriksaan yang lebih dekat, kita menemukan bahwa antara stimulus (rangsangan) dan respons (tanggapan), manusia memiliki kebebasan untuk memilih. Kita tidak memiliki fungsi “pilot otomatis”.
Kesadaran diri adalah kemampuan kunci untuk memahami orang lain dan dunia ini, “what is happening and how something takes the process to happen”. Bahkan kesadaran diri merupakan pintu untuk mengenal di mana sebenarnya keunggulan/kelemahan diri kita. Dengan kesadaran diri yang tinggi maka kaki kita mantap menginjak realitas dunia dan tidak ragu-ragu dalam bertindak.
Kemampuan tentang kesadaran diri apabila diaktualkan secara optimal akan menghasilkan kebiasaan efektif berupa proaktif, misalnya dalam memiliki kemampuan untuk memilih respons yang cocok atau menentukan keputusan. Dikatakan kebiasaan
efektif karena semua persoalan tidak ada yang membingungkan apabila ditangani oleh orang yang berkapasitas mampu mengambil keputusan. Kualitas menjadi pengambil keputusan seperti inilah yang tidak dimiliki oleh orang dengan kesadaran diri setengah-setengah.
Pada level aktualisasi kemampuan yang rendah, kebiasaan hidup yang dihasilkan tidak efektif yaitu kebiasaan reaktif yaitu tidak memiliki kemampuan memilih alias dibentuk oleh bagaimana orang lain dan keadaan membentuknya. Di tingkat level ini semua persoalan besar/kecil akan membuat dirinya “Bingung” yaitu terombang-ambing, bahkan
bisa jadi tidak tahu mana yang besar dan mana yang kecil.
Kita perlu tahu bagaimana memfokuskan waktu dan energi untuk menjadi efektif. Wilayah yang menjadi perhatian kita (concerned) disebut sebagai “Lingkaran Perhatian”. Wilayah dimana kita benar-benar bias mengerjakan segala sesuatunya, disebut sebagai “Lingkaran Pengaruh”. Ketika kita fokus pada waktu dan energi kita di Lingkaran Perhatian, namun posisi berada di luar Lingkaran Pengaruh, kita tidak efektif. Bagaimanapun, menjadi proaktif akan membantu memperluas Lingkaran Pengaruh kita. (Dimana kita bias mengerjakan sesuatunya menjadi efektif).

2. Imajinasi – Tujuan akhir
Ketika kita memulai dengan akhir di pikiran, kita memiliki arahan pribadi yang menuntun aktivitas sehari-hari, tanpa ada pergerakan pada sasaran kita. Memulai dengan akhir di pikiran adalah bagian dari kepemimpinan pribadi, pengendalian dari kehidupan yang kita miliki. Segala sesuatunya dibuat dua kali. Kita menciptakannya pertama-tama dalam pikiran kita, dan kemudian kita mengerjakannya secara fisik. Dengan pengendalian dari penciptaan pertama milik kita, kita bias menulis dan menulis ulang naskah, dengan demikian bisa melakukan beberapa kontrol dan pertanggung-jawaban hasil dan akibatnya. Kita menulis dan mengulang tulisan menggunakan angan-angan dan kata hati kita.
Ada tiga aspek besar dari manajemen pribadi dan bisnis. Pertama adalah kepemimpinan – apa yang ingin kita selesaikan? Kedua adalah manajemen – bagaimana bisa saya selesaikan dengan sebaik-baiknya? Ketiga adalah produktivitas – mengerjakannya. “Manajemen adalah mengerjakan sesuatu dengan benar; Kepemimpinan adalah mengerjakan kebenaran sesuatu”. Titik awal di permulaan dalam akhir dalam pikiran adalah mengembangkan pernyataan misi, filosofi atau paham pribadi. Ini akan membantumu
fokus pada apa yang kamu inginkan “menjadi“ (karakter), “mengerjakan” (kontribusi dan pencapaian) dan pada nilai-nilai dan prinsip-prinsip atas dasar keadaan dan apa yang dikerjakan olehmu. Pernyataan misi pribadi memberikan kita suatu pusat tumpuan yang tidak berubah, dimana kita bisa berurusan dengan perubahan eksternal.
Kemampuan imajinasi apabila diaktualkan secara optimal dengan petunjuk kesadaran dan prinsip akan menghasilkan kebiasaan hidup yang bermuara pada tujuan akhir/kepentingan misi. Orang yang telah melatih imajinasinya pada level tinggi senantiasa akan membuat lilin harapan dan visi menyala sehingga tidak mudah digoda oleh berbagai bentuk distraksi dari luar dan dari dalam atau tidak mudah kalut oleh kegelapan realitas temporer. Kondisi internal yang terus tercerahkan (enlightenment) oleh lilin harapan dan visi inilah yang membuat dirinya realistik (berada di atas realitas) atau victor (pemenang) dan effective.
Sebaliknya, pada level aktualisasi kemampuan yang rendah di mana orang membiarkan imajinasinya liar kemana-mana tanpa kesadaran atau prinsip yang jelas akan menghasilkan cetakan kebiasaan hidup yang tidak berbentuk, atau menjadi korban (victim), sudah kemana-mana tetapi tidak menemukan apa-apa (sense of futility about goal).
Imajinasi yang liar bisa terjadi kapan pun dan di manapun yang lazimnya kita kena dengan aktivitas “Melamun”. Secara ekspresi dari muka sulit dibedakan antara orang melamun dan orang yang melatih imajinasi dengan bervisualisasi kreatif tetapi dalam hitungan yang ke sekian kali perbedaan itu akan sebesar kemutakhiran kreasi. Bukankah semuatemuan teknologi berawal dari imajinasi?, hanya diri kita sendiri yang tahu jawabannya.

3. Kemauan – Dahulukan yang Utama
Kebiasaan 3 adalah Manajemen Pribadi (Kemauan), pelatihan kemandirian yang akan menciptakan kehidupan yang selaras dengan nilai-nilai, sasaran dan misi yang dianut. Anugrah manusia yang keempat, Keinginan Bebas, adalah kemampuan untuk membuat keputusan, pilihan dan bertindak berdasar kepada dirinya. Integritas adalah kemampuan untuk membuat dan menjaga komitmen kepada diri kita sendiri.
Manajemen menyangkut pengembangan aplikasi spesifik dari ide-ide. Kita harus memimpin melalui otak kanan (secara kreatif) dan mengelola dari otak kiri (secara analitis). Untuk mengendalikan perasaan, ayunan dan suasana hati kepada nilainilaimu, kamu harus menyalakan kata “YA” dalam hati, dan berkata “TIDAK” kepada yang lain. Kata “YA” adalah maksud, keinginan, perasaan nyata dari arah dan nilai kita. Manajemen waktu adalah keahlian penting untuk manajemen pribadi.
Kemampuan manusia berupa kemauan apabila diaktualkan secara optimal akan menghasilkan kebiasaan hidup teratur yaitu mengutamakan yang utama, dan penuh displin dalam membuat tata letak antara prioritas utama, kepentingan, dan urgensitas.
Dengan memusatkan hidup kita pada prinsip yang benar, kita menciptakan pondasi yang stabil dan solid untuk pengembangan faktor daya dukung hidup dan jangkauan dan lingkup area yang benar-benar penting dari kehidupan kita. Kesuksesan hubungan, pencapaian dan keamanan finansial akan memancar dari pusat prinsip.
Keteraturan dan displin tidak dapat diraih tanpa kemauan keras untuk merebut tanggung jawab. Orang yang tahu tata letak akan membuat kebiasaan hidup efektif. Pada level aktualisasi yang rendah, kemampuan ini akan menghasilkan kebiasaan hidup berupa mentalitas jalan-pintas, atau “the simple answer” (berkata simpel), menolak tanggung jawab hidup sehingga tidak terjadi keteraturan. Membesar-besarkan hal yang kecil dan mengabaikan hal yang menjadi benih-benih peristiwa besar. Orang yang malas tidak berarti hidupnya efektif meskipun ia menolak bertanggung jawab karena pada dasarnya hidup ini tidak memberi pilihan antara bertanggung jawab atau tidak, melainkan harus bertanggung jawab.


4. Mentalitas Berlimpah – Berpikir Menang/Menang
Kemampuan mentalitas atau kapasitas mental yang diaktualkan secara optimal akan menghasilkan kebiasaan berpikir menang/menang dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Mentalitas berlimpah akan menghasilkan karakter kepribadian berprinsip.
Prinsiplah yang menjadi sumber keberlimpahan, kemakmuran dan keamanan. Kalau dikaitkan dengan kecerdasan EQ, tingkat kecerdasan yang tinggi akan mampu memproduksi kebahagian di dalam sehingga berkuranglah tingkat dependensinya terhadap sumber kebahagiaan dari luar. Semakin kuat orang memegang “principle-centered” (berpusat pada prinsip hidup), semakin mudah orang tersebut mengalirkan rasa cinta/penghargaan kepada orang lain yaitu to share recognition.
Oleh karena itu dikatakan, mentalitas berlimpah akan menghasilkan profit dan power. Sebaliknya pada level aktualisasi yang rendah akan menghasilkan kebiasaan hidup talang bocor berupa mentalitas kerdil (scarcity) dimana orang merasa kurang dengan dirinya. Rasa bahagia, rasa aman, dan rasa makmur tidak mampu diciptakan oleh dirinya melainkan merasa harus bergantung kepada orang lain sehingga tidak mudah memberi maaf atas kesalahan apapun yang dilakukan oleh mereka.
Suami/istri yang bermentalitas kerdil akan mudah bentrok walaupun pemicunya berupa sendok makan yang jatuh padahal (mestinya) cukup diselesaikan dengan memaafkan sedikit. Karena tidak mampu memaafkan akhirnya membuat kebocoran tidak hanya menetes melainkan mengalir deras, dan akhirnya banjirlah rumah tangga.

5. Keberanian – Berusaha mengerti baru Dimengerti
Kita sering mencatat sebelum membuat diagnosis yang tepat ketika berkomunikasi. Pertama-tama membutuhkan waktu untuk mengetahui secara mendalam masalah yang hadir pada kita. Kunci nyata untuk mempengaruhi adalah sebagai contoh – tingkah lakumu.
Unjuk kerja pribadi harus sebidang dengan penampilan publikmu.
Jika orang tidak percaya kepadamu, dan mereka (tidak) percaya kamu mengerti mereka, mereka akan begitu marah, defensif, bersalah atau takut untuk dipengaruhi. Keahlian mendengar dengan empati harus dibangun pada suatu karakter yang meng-inspirasikan keterbukaan dan kepercayaan dan catatan bank emosi yang tinggi.
Kemampuan keberanian apabila diaktualkan secara optimal akan menghasilkan kebiasaan efektif berupa memahami lebih dulu baru akan dipahami. Memahami lebih dulu membutuhkan keberanian dengan pertimbangan. Dikatakan efektif karena memahami lebih dulu akan (biasanya) membuat kita dipahami lebih dulu. Memahami lebih dulu adalah membuka talang yang macet atau kalau dipinjamkan dari istilah lain, memahami lebih dulu adalah kebiasaan empati, bukan simpati.
Sebaliknya keberanian yang tidak diaktualkan secara optimal akan menghasilkan kebiasaan hidup tidak efektif berupa keinginan untuk dipahami lebih dulu baru akan memahami. Jika dikembalikan ke kehidupan kita, akar dari sebab persoalan besar adalah dasar berkomunikasi yang ingin dipahami lebih dulu. Semua orang memang secara alami ingin dipahami lebih dulu.

6. Kreativitas – Sinergi
Sinergi bermakna keseluruhan adalah lebih besar dari pada jumlah setiap bagiannya. Suatu hubungan yang mana bagian-bagian yang memiliki setiap bagian lainnya adalah suatu bagian yang ada di dalamnya dan merupakan dirinya sendiri – bagian yang besar wewenangnya, menyatu dan menggairahkan.
Intisari dari sinergi adalah perbedaan nilai-nilai – dengan menghormatinya, membangun kekuatan, dan mengkompensasikan kelemahan. Jalan untuk menacapai sinergi melalui proses kreatif, yang bisa menakutkan, karena kita tidak pernah tahu kemana proses kreatif akan membawa kita.
Kemampuan kreativitas apabila diaktualkan secara optimal akan menghasilkan kebiasaan hidup efektif berupa terciptanya keunggulan sinergis dari perbedaan atau persamaan. Keunggulan sinergis adalah manifestasi kesadaran misi dan tidak dapat diraih dengan pendewaan posisi. Salah satu karakteristik keunggulan sinergis adalah terciptanya saluran komunikasi di antara respectful minds yang berinteraksi untuk menemukan kompromi dan kerjasama.
Kenyataan seringkali mengajarkan bahwa pada akhirnya,kerjsa sama yang diolah dengan kreativitas akan menang melebihi ”confrontation”. Sebaliknya kemampuan kreativitas yang tidak diaktualkan secara optimal akan menghasilkan kebiasaan hidup tidak efektif berupa kebuntuan alternatif dan kemacetan aliran transformasi. Satu-satunya jalan yang ditempuh adalah membuat ”defensive communication” diiringi dengan pendewaan posisi antara saya dan anda, kami dan mereka. Posisi yang didewakan akan membuat aliran kepentingan misi bisa macet dan akhirnya terbuang ke tempat yang tidak diinginkan.
Kepercayaan tinggi akan menuntun kepada komunikasi dan kerjasamayang tinggi. Titik kemajuan komunikasi adalah bertahan (menang atau kalah/menang), penuh penghormatan (kompromi), sinergis (menang/menang). Komunikasi sinergis harus dicapai untuk mengembangkan kemungkinan kreatif, termasuk penyelesaian yang lebih baik daripada proposal aslinya. Jika sinergi tidak tercapai, kadang upaya selalu berhasil dalam kompromi yang lebih baik.

7. Pembaharuan – Mengasah Gergaji
Kebiasaan mengasah gergaji dihasilkan dari kemampuan pembaruan diri yang diaktualkan secara optimal. Dikatakan kebiasaan efektif karena dengan terus mengasah gergaji (mengasah bakat, mengembangkan bakat atau keahlian) dapat mengurangi kemungkinan yang menyebabkan kegagalan atau kelambanan menyelesaikan masalah akibat perubahan keadaan. Seperti siksaan paling berat yang kita rasakan adalah ketidaktahuan (kebodohan). Pembaharuan adalah inovasi, improvisasi, pembelajaran, atau merenovasi.
Dengan memperbaharui empat dimensi dari sifat alamimu – fisik, spiritual, mental dan sosial/emosional, kita bisa bekerja lebih cepat dan tanpa kesulitan. Untuk mengerjakannya, kita harus proaktif. Ini adalah aktivitas Kuadran II (penting, namun tidak urgen) yang harus diaktifkan. Itu adalah pusat dari Lingkaran Pengaruh, maka kita mesti mengerjakannya untuk diri kita sendiri.
Sebaliknya, kemampuan pembaruan yang tidak diaktualkan secara optimal akan membuat kita terperosok dalam sistem hidup yang tertutup, gaya hidup yang gelap, dan buntu. Tak mungkin lagi sistem dan gaya hidup demikian hanya akan mewariksakan ketertinggalan dari kemajuan zaman, mentalitas kerdil dan kebodohan akan perkembangan informasi. Oleh karena itu, kebiasaan yang ketujuh ini adalah kebiasaan yang menjadikan semua kebiasaan lain mungkin menjadi lebih efektif.

Mengapa Mahasiswa harus berkarakter ?

Posted by Wulandari SF


" Banyak orang mengatakan kepintaran yang menjadikan seseorang ilmuwan besar.  Mereka keliru, semua itu adalah karena faktor karakter. " (Albert Einstein)


Sebelum mengetahui mengapa mahasiswa harus berkarakter , kita perlu terlebih dahulu mengetahui apa sebenarnya yang dimaksud dengan karakter ?  Karakter adalah adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.  Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.  Lalu apa bedanya karakter dengan kepribadian ?  Kepribadian bukanlah karakter. Setiap orang punya kepribadian yang berbeda-beda.  Tiap manusia tidak bisa memilih kepribadiannya, kepribadian sudah hadiah dari Sang pencipta sejak manusia dilahirkan.  Dan dari segi kepribadian, seseorang pasti memiliki kelebihan maupun kekurangan.  Bagaimana dengan karakter ?  Saat tiap manusia belajar untuk mengatasi kelemahannya dan memperbaiki kelemahannya dan memunculkan kebiasaan positif yang baru maka inilah yang disebut dengan karakter.  

Karakter tidak bisa diwariskan, karakter tidak bisa dibeli dan karakter tidak bisa ditukar. Karakter harus DIBANGUN dan DIKEMBANGKAN secara sadar hari demi hari dengan melalui suatu PROSES yang tidak instan.  Karakter bukanlah sesuatu bawaan sejak lahir yang tidak dapat diubah lagi seperti sidik jari.
(Timothy Wibowo)

Jadi, mengapa mahasiswa harus berkarakter dan karakter seperti apa yang harus dimiliki oleh mahasiswa ?
Pertama, mahasiswa adalah bagian dari entitas akademik di sebuah perguruan tinggi sehingga kemudian disebut sebagai akademisi dalam arti “member of an academy”.  Perguruan tinggi adalah wadah yang harusnya memberi bentuk bagi entitas yang bernaung didalamnya.  Dengan demikian karakter pertama yang harus dimiliki mahasiswa adalah karakter seorang pembelajar, yang haus akan ilmu pengetahuan dan kebenaran, intelektual yang senantiasa berpikir kritis dalam memecahkan masalah dan fenomena sosial maupun alam yang terjadi, yang tunduk patuh pada etika akademik dan ilmu pengetahuan, yang sadar akan kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademiknya secara beradab dan bertanggungjawab, serta sadar akan tanggung jawab moralnya untuk mendayagunakan ilmu pengetahuan bagi sebesar-besarnya kebaikan dan kesejahteraan masyarakat.
Kedua, mahasiswa merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.  Karenanya kesadaran akan eksistensi formalnya tersebut harusnya telah terinternalisasi sebagai karakter mahasiswa, sehingga mahasiswa secara sadar menjadi bagian dari upaya sadar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, menjunjung tinggi kepentingan bangsa dan Negara di atas kepentingan pribadi/golongan, taat azas terhadap konstitusi dan perundang-undangan yang berlaku, serta bertanggung jawab terhadap masa depan bangsa dan negaranya.
Ketiga, mahasiswa merupakan anak bangsa yang menjadi bagian dari masyarakat. Mahasiswa merupakan representasi dari rakyat baik dalam konteks kekinian maupun masa depan. Dan mahasiswa adalah duta para orang tua, yang diutus oleh orang tuanya untuk menjalankan misi pribadi dan keluarga.  Mahasiswa harus tetap menjadi bagian dari masyarakat, mampu berempati terhadap segenap persoalan masyarakat, serta menjadi bagian produktif untuk meretas jalan keluar terhadap persoalan-persoalan tersebut. Karenanya diperlukan karakter mahasiswa yang kritis sekaligus empatif dalam menyuarakan kehendak masyarakatnya, serta kreatif dan inovatif dalam menjawab tantangan serta permasalahan yang dihadapi masyarakat yang notabene merupakan orang tua yang mengutus mereka sebagai duta.
Keempat, mahasiswa merupakan bagian dari masyarakat dunia yang bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Kesadaran akan kebhinekaan ini merupakan karakter dasar guna membangun sikap toleran, saling menghormati, dan humanis guna dapat bekerjasama secara sinergis dalam mewujudkan tatanan masyarakat dunia yang adil dan sejahtera.
Kelima, mahasiswa merupakan insan yang tak boleh terpental jauh dari eksistensi transedentalnya sebagai mahluk Tuhan yang membawa misi kenabian guna dapat menjadi khalifah di muka bumi yang bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup serta kesejahteraan semua mahluk yang ada di muka bumi. Karenanya, mahasiswa haruslah pribadi-pribadi yang taat dalam menjalankan ibadah formalnya serta mampu mewujudkan hakikat ibadah yang dijalaninya tersebut dalam kehidupannya sehari-hari.
Kelima kesadaran eksistensial inilah yang harusnya menjadi landasan dalam membangun paradigma dan metoda dalam melakukan pembinaan karakter mahasiswa, sehingga internalisasi akan dimensi aksiologis dan eksistensinya itu dapat berlangsung secara alamiah dan manusiawi. Tentu bukan proses yang mudah, apalagi dalam wadah organisasi perguruan tinggi yang kompleks dan seringkali terkendala oleh kultur birokrasi yang lambat, inefisien, dan formalistik.

Tentang Pendidikan Karakter

Pendidikan Karakter adalah pemberian pandangan mengenai berbagai jenis nilai hidup, seperti kejujuran, kecerdasan, kepedulian dan lain-lainnya.  Dan itu adalah pilihan dari masing-masing individu yang perlu dikembangkan dan perlu di bina, sejak usia dini (idealnya).  Banyak saya perhatikan bahwa orang-orang dengan karakter buruk cenderung mempersalahkan keadaan mereka. Mereka sering menyatakan bahwa cara mereka dibesarkan yang salah, kesulitan keuangan, perlakuan orang lain atau kondisi lainnya yang menjadikan mereka seperti sekarang ini. Memang benar bahwa dalam kehidupan, kita harus menghadapi banyak hal di luar kendali kita, namun karakter Anda tidaklah demikian. Karakter Anda selalu merupakan hasil pilihan Anda.  Ketahuilah bahwa Anda mempunyai potensi untuk menjadi seorang pribadi yang berkarakter, upayakanlah itu. Karakter, lebih dari apapun dan akan menjadikan Anda seorang pribadi yang memiliki nilai tambah. Karakter akan melindungi segala sesuatu yang Anda hargai dalam kehidupan ini.

Setiap orang bertanggung jawab atas karakternya. Anda memiliki KONTROL PENUH atas karakter Anda, artinya Anda tidak dapat menyalahkan orang lain atas karakter Anda yang buruk karena Anda yang bertanggung jawab penuh. Mengembangkan karakter adalah TANGGUNG JAWAB pribadi Anda.